Syam & Diny

Syam & Diny
Pasutri yang Sakinah, Mawaddah Wa Rohmah

Rabu, 16 Juni 2010

Dzikrulloh


Dzikrulloh ( 1 )

Alaa bidzikrillah tathma’innuul quluub. “Hanya ingat kepada Alloh lah, semua qalbu manusia menjadi tuma’ninah”. Istilah tuma’ninah sering dipakai oleh Alloh dalam Al-Qur’an, kaitannya dengan ‘Qalbu’ dan ‘iman’ manusia. Perhatikan cuplikan ayat-ayat Alloh berikut; “wa laakin liyathmainna qolby”...”wa tathmainnu quluubuhum” ...”wa litathmainna quluubukum bih”...”wa tathmainnu quluubunaa”... “wa qolbuhu muthmainnu bil imaan”.... “yaa ayyatuhannafsul muthmainnah irji’iy ila robbiki...” dst. Jadi, setidak-tidaknya pasti ada kaitan antara dzikrulloh, iman, thuma’ninah atau ketenangan, dan perjalanan seorang hamba menuju Alloh.

Adalah merupakan keputusan dari Alloh Yang Menciptakan Qalbu, bahwa siapapun yang mau mengamalkan dzikrulloh, qalbu manusia pasti akan tenang. Ketenangan yang dirasakan hati, bukanlah satu-satunya buah dari pelaksanaan dzikrulloh. Ketenangan hati hanyalah merupakan karunia awal, sebuah karunia yang pasti diperoleh secara sepontan ketika atau usai seseorang melakukan dzikir. Banyak sekali janji Alloh yang akan ditetapkan bagi orang yang suka berdzikir, baik dzikir secara sendiri-sendiri maupun dzikir secara jama’ah.

Oleh karena Alloh Sendiri yang Mencipta dan Menguasai qalbu setiap manusia, maka Alloh sendiri juga yang tahu tentang bahan dasar penciptaan Qalbu, fungsi Qalbu, kapasitas qalbu, makanan qalbu, perusak qalbu, dsb. Apa setiap orang Islam masih akan ragu dengan Janji Alloh yang Maha Mengetahui seluk beluk hati yang diciptakan-Nya Sendiri, yang berfirman “Hanya dengan dzikrulloh sajalah semua qalbu menjadi tenang” ? ..........................

Adalah suatu penganiayaan manakala kedua tangan kita, kita pergunakan untuk berjalan. Juga bentuk kezaliman ketika jasad kita, kita beri makan racun. Seandainya bisa bersuara, pasti akan terdengar jeritan kaki maupun jasad kita, saat kita pergunakan tidak semestinya. Bahkan ketika kita selalu berbuat seperti itu, dan kaki atau jasad kita misalnya dirubah bentuk oleh Alloh menjadi ular yang berakal, tentu mereka akan menggigit kita sampai tak tertahankan sakitnya. Itulah sebabnya mengapa di neraka pasti terjadi sesuatu yang tak terduga, yang akan mengadili setiap orang yang zalim, baik menzalimi diri maupun menzalimi orang lain.

Sekiranya seluruh manusia terbuka hijabnya, mereka akan tahu bahwa kegiatan qalbu manusia yang paling utama adalah berdzikir. Mereka semua pasti hanya akan menyenangi kegiatan dzikrulloh. Kesenangan berdzikir bagi qalbu adalah seperti kesenangan main sepakbola bagi anak-anak. Maka makanan yang paling disenangi qalbu adalah “Alloh”, seperti bagi tubuh yang paling disukai adalah makanan lezat, halal dan thoyyib. Tak ada lagi yang lebih lezat bagi qalbu selain Alloh. Apabila kegemaran fitri qalbu mengingat Alloh diganti dengan mengingat selain Alloh, siapapun orangnya pasti akan susah tak berkesudahan, bahkan akan semakin panik, stress, bingung, gelap, dll. Sampai-sampai saking susah dan menyesalnya, banyak orang kelak di hari Kiamat memilih menginginkan dirinya menjadi tiada, menjadi debu, atau menyesal dan minta dihidupkan kembali ke alam dunia untuk beramal sholeh (namun sudah tidak diizinkan).

Alangkah ironis seorang pemuda gagah perkasa yang memilih memakan racun daripada yang lain. Beberapa menit pertama memang tak tampak semakin kurus. Tapi beberapa menit kemudian masyarakat gempar mendengar kematiannya. Namun bagi qalbu manusia, karena nanti bersifat kekal, kekal dalam susah yang diderita qalbu pun tak mampu disirnakan oleh siapapun. Jadi jangan sampai orang beriman tertipu oleh tampilan luar sosok manusia. Jika mereka tak pernah dzikrulloh, pastikan saja bahwa qalbu mereka sekarang ini dan selamanya tetap dalam kegundahan. Apalah arti tampilan luar jika di dalam bathinnya tak berbahagia, susah terus, tak mendapat kepuasan sepanjang masa. Apalah artinya sebuah mobil mewah, jika mencari Barat memilih jalannya ke arah Timur. Pastikan saja, orang itu tidak waras. Jika demikian, berapa milyar penduduk bumi yang tidak waras ? Berapa gelintir orang saja yang qalbunya menemukan yang paling dicari selama ini (Alloh) sehingga selalu puas dan bahagia secara hakiki ? Maka, bersyukurlah orang yang masuk golongan orang-orang berakal, yang terselamatkan dari maqom kebingungan dan ketidakpastian.

Jika telah diketahui bahwa menurut kamus Sang Pencipta Qalbu, makanan utama bagi qalbu manusia adalah “Alloh Sang Pencipta Qalbu”, maka menjadi tenang qalbunya. Begitu pun akan hilanglah kewarasan akal seorang muslim yang masih terus-terusan mendebat (mempersoalkan) kegiatan dzikrulloh yang dilakukan oleh suatu kelompok yang oleh Alloh Sendiri disanjung-sanjung ; “Adz-dzaakiriinalloh wadz-dzaakiroti katsiiron”. Kenapa mempermasalahkan kelompok-kelompok yang ingin pergi ke Jakarta dari Salatiga (Kota yang terletak di sebelah Timur Jakarta) yang mana mereka semua itu telah melangkahkan kakinya menuju Barat ? Kenapa justru tidak menegor seorang dungu yang menyangka Gubernur Jawa-Tengah adalah sebagai seorang Presiden RI sehingga tidak mau melanjutkan perjalanan ke Jakarta (tempat istana Presiden berada) dan hanya mandeg di Kota Semarang saja? Mengapa tidak mempermasalahkan orang-orang yang bersikukuh mencari Jakarta dari Salatiga dengan melangkahkan kakinya ke arah Timur ? Dan mengapa mendebat orang-orang yang haus dan ingin mencari satu-satunya sumber mata air di Jakarta (ada yang berjalan kaki, naik bus, naik becak, berjalan merangkak, berjalan rangkulan, naik sepeda onthel dengan menggendong tujuh orang anaknya, naik pesawat sambil membawa kambing piaraannya, dll. sementara ia sendiri dalam keadaan haus tak mau beranjak selain ke Timur yang dikiranya Kota Jakarta dengan baju mewah berdasi naik pesawat ?

Waraskah tujuh orang bersaudara yang rumah orang tuanya mulai terbakar sementara mereka masih saling duduk dan ribut di depan danau dekat rumahnya mempermasalahkan siapa yang akan memimpin penyiraman rumah yang hampir ludes dilalap api tersebut ? Waraskah kakak tertua menghajar babak belur adik bungsunya karena meninggalkan keributan kakak-kakaknya (yang masih mempermasalahkan posisi ketua) yang segera mengambil ember menyiram pagar rumahnya ? Demi Alloh, masih banyak orang Islam sendiri yang ternyata tidak waras akal dan mata bathinnya. Maka sebagai orang beriman, kita harus segera memberi obat untuk mengatasi ketidakwarasan saudara-saudara kita. Bahkan kita sendiri pun harus mau meminum obat yang disediakan sang dermawan untuk kita jika oleh dokter kita ini dinyatakan telah mengidap suatu penyakit.

Guru Besar Spiritual kita, Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul’Arifin (Abah Anom), salah seorang Wali Mursyid di Tanah Air, dalam isyaratnya menganjurkan kepada seluruh muridnya untuk tetap bersikukuh (istiqomah) melaksanakan dzikrulloh sebagaimana yang telah dituntunkan, baik bagi yang sudah bisa khusu’ maupun yang masih wira-wiri pikirannya. Kendati dzikir dalam keadaan ngantuk, masih lebih baik jika dibanding tidak berdzikir. Sebab berkah dzikir yang ia lakukan sendirian dengan ngantuk (apalagi secara berjamaah), suatu saat nanti Alloh akan membuat qalbunya tak terpuasi sebelum berdzikir, jika himmahnya memang kuat. Harapan Guru Besar kita supaya kita tetap melangsungkan dzikrulloh, adalah banyak sekali; menyangkut persoalan keselamatan diri, kenikmatan diri, pemenuhan keilmuan islam, peningkatan kuwalitas islam, iman dan ihsan bagi diri dan bagi masyarakat, penyebaran rahmat islam, pemenuhan Isyarat ilahi tentang maksud penciptaan; baik secara mikro maupun makro, dll. Jadi cobalah, dalam berdzikir dihayati bahwa kita sebagai mentri-mentri dari Abah (selaku Mahkota Para Wali) yang mengerti benar apa yang harus kita lakukan dan apa yang dimaksud dari Abah yang telah mengangkat kita sebagai mentri-mentrinya. Abah punya cita-cita yang sangat mulia dalam mendorong para muridnya membiasakan dzikrulloh secara berjama’ah. Selain keuntungannya untuk pribadi yang melakukan dzikir, juga sebenarnya masyarakat dunia sangat membutuhkan siraman Rahmat dari Alloh lantaran keikhlasan jama’ah yang pada berdzikir tersebut.

Berdzikirlah dengan hasrat Wali Mursyid; maka kalian akan banyak mendapat futuh (ketersingkapan mata hati) dari Alloh, mendapat ilmu ladunny, ketenangan bathin, berwibawa, semangat hidup, ma’rifatulloh dan kalianpun juga akan semakin tambah gigih berdzikir mencari Cahaya lebih lanjut demi Pencerahan diri dan masyarakatnya. Jangan hanya berdzikir dengan hasrat kalian sendiri yang masih sangat terbatas. Jika demikian kalian akan lambat memperoleh hasil dzikir, akan banyak melenceng dari maksud dzikir, akan malas melakukan dzikir, putus asa jika yang dicari tidak segera Alloh kabulkan, bahkan berani menuduh dzikir tidak ada manfaatnya, atau masih mencari-cari amalan yang lebih tinggi dari dzikrulloh. Naudzubillah mindzaalik. Inilah salah satu akibat jika dzikir dilakukan atas dasar hawa nafsu atau bukan hasrat Guru. yang dicari pasti sesuatu yang sangat remeh. Kalau tidak bisa memahami maksud tertinggi dari dzikrulloh sehingga usai dzikir terkadang membuat badan capai, hati gundah, awak aras-arasen, dsb. maka lakukan saja dzikrulloh secara suka rela atas dasar Perintah Wali Mursyid, dengan landasan keyakinan yang bulat, bahwa tak mungkin bagi seorang Wali Mursyid Sejati ingin membuat murid-muridnya mengalami kerugian dari perintah dzikirnya. Bukankah Alloh Sendiri yang telah memerintahkan kita untuk berdzikir ? Bukankah Alloh telah memastikan ketenangan qalbu bagi kita yang berdzikir. Bukankah Alloh sendiri yang akan menggiring ke arah keuntungan manakala kita mau banyak berdzikir ? Bukankah dengan dzikir kita akan selalu baru dalam iman ? Bukankah iman akan menggiring kita ke arah kekuatan melaksanakan syariah (taqwa), yang jika iman dan taqwa telah masuk ke kalbu penduduk kampung kita maka Alloh akan membukakan bagi masyarakat keberkahan langit dan bumi ? Bukankah jika demikian Negeri kita Indonesia tercinta amat membutuhkan jika setiap kampungnya selalu berkumandang gema dzikrulloh ?

(Ditulis oleh Syeikh Sirrulloh tgl. 03 Agustus 2005 pkl.13.50 WIB. Dipersembahkan untuk Jamaah Suryabuana Salatiga pada acara Manaqib dan Pengajian di kampung Setro Salatiga tgl 03-08-2005 pkl. 20.00 WIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar